Kulon Progo, 18 Januari 2026 – Menyongsong tahun 2026, wajah pariwisata Indonesia kian bertransformasi menuju arah yang lebih berkelanjutan dan bermakna. Kementerian Pariwisata secara resmi menetapkan pengembangan Desa Wisata sebagai program prioritas utama. Fokus kebijakan kali ini tidak lagi hanya bertumpu pada kuantitas, melainkan pada peningkatan kualitas pelayanan dan pengalaman wisatawan yang mendalam.

Salah satu destinasi yang menjadi sorotan dalam tren wisata masa depan ini adalah Desa Wisata Segajih yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini dinilai berhasil mengintegrasikan potensi alam dengan kearifan lokal melalui konsep wisata berbasis alam dan edukasi.

Melampaui ‘Healing’: Mendalami Rasa dan Jiwa

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban, tren pariwisata global menunjukkan pergeseran signifikan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari spot foto yang estetis atau sekadar healing secara visual. Terdapat kerinduan yang mendalam untuk kembali ke akar (back to basics).

Desa Wisata Segajih menangkap peluang ini dengan menawarkan pengalaman yang menyentuh sisi emosional dan spiritual. Wisatawan yang berkunjung ke Segajih diajak untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari ekosistem desa. Pengunjung dapat merasakan detak jantung pedesaan melalui interaksi langsung dengan warga, mulai dari belajar bertani hingga memahami filosofi hidup masyarakat lokal.

Dukungan Penuh Kementerian Pariwisata

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam kunjungannya menekankan pentingnya peran masyarakat dalam membangun fondasi pariwisata yang kuat. Beliau memberikan apresiasi khusus terhadap model pengembangan yang diterapkan di Desa Wisata Segajih.

“Desa Wisata Segajih adalah representasi dari wajah pariwisata Indonesia masa depan. Di sini, kita tidak hanya menjual pemandangan, tapi kita menjual cerita dan pengalaman. Wisatawan tidak hanya datang untuk healing, tapi untuk mendalami rasa, jiwa, dan keseharian masyarakat lokal. Inilah kekuatan kita yang sesungguhnya,” ujar Ni Luh Puspa.

Beliau menambahkan bahwa keterlibatan aktif warga adalah kunci utama agar pariwisata memberikan dampak ekonomi yang merata namun tetap menjaga kelestarian budaya asli.

Tren Wisata 2026: Alam, Budaya, dan Engagement

Data kementerian menunjukkan bahwa preferensi wisatawan dunia kini bergeser ke arah tiga pilar utama: Alam (Nature), Budaya (Culture), dan Keterlibatan Masyarakat (Community Engagement). Desa wisata dianggap sebagai jawaban paling relevan atas tren tersebut.
Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pada tahun 2026, kementerian akan memastikan desa wisata tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga naik kelas secara kualitas.

“Target kami di tahun 2026 adalah penguatan kualitas. Kita ingin memastikan setiap wisatawan yang pulang dari desa wisata membawa cerita yang tidak terlupakan. Kami akan fokus pada standarisasi layanan, keberlanjutan lingkungan, dan penguatan narasi budaya di setiap desa,” jelas Wamenpar.

 

 

 

Kepala Divisi Komunikasi Publik

Badan Pelaksana Otorita Borobudur

By Published On: Minggu, 18 Januari 2026Views: 25

Share This Story, Choose Your Platform!