Bantul, 26 Januari 2026 – Dalam meningkatkan citra pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melakukan kerja sama dengan Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) melalui Kelana Wisata untuk mempromosikan konservasi penyu di Pantai Goa Cemara, Bantul. Kolaborasi ini diwujudkan berupa film dokumenter untuk mengangkat praktik baik Komunitas Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo. Produksi film dilaksanakan pada bulan Oktober-November untuk menangkap visual kegiatan konservasi di sekitar Pantai Goa Cemara.

Pembuatan Film Dokumenter melibatkan peran dari berbagai pihak. Selain Badan Pelaksana Otorita Borobudur dan BCA, kolaborasi dilakukan bersama Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara, Konservasi Penyu Pantai Pelangi, Desa Wisata Patihan, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, dan Akademisi Biologi Universitas Ahmad Dahlan. Keterlibatan berbagai pihak tersebut merupakan salah satu wujud kolaborasi Quadruple Helix yang melibatkan pemerintah, swasta, komunitas, dan akademisi dalam mewujudkan pariwisata berkualitas.

Dalam kolaborasi ini, masing-masing pihak memiliki peran strategis. Badan Pelaksana Otorita Borobudur berperan dalam memproduksi film dokumenter melalui Tim Kelana Wisata sebagai bentuk promosi pariwisata berkualitas. Film dokumenter rencananya akan dipublikasikan pada kanal Youtube, serta didukung oleh konten teaser dan infografis berbentuk video dan carousel yang diunggah di media sosial Instagram dan Tiktok.

Sementara itu, peran BCA dalam mendukung konservasi penyu diwujudkan melalui pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan penetasan telur penyu kepada KKP Mino Raharjo. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu kelompok konservasi untuk menetaskan lebih banyak telur penyu sehingga diharapkan mampu meningkatkan hatch rate telur penyu.

“Penetasan dengan inkubator buatan lebih bagus karena lebih terpantau dari telur masuk ke dalam mesin hingga tenggat waktu 51 hari menetas. Secara keseluruhan terpantau secara visual sehingga bisa ditangani ketika ada tukik yang baru saja menetas terus kemudian masih ada yolk atau kuning telur. Keberhasilan tetas dari penggunaan inkubator untuk penetasan telur penyu lebih dari 85%. Itu lebih baik daripada dengan pendam yang hanya mencapai 71%,” ungkap Fajar Subekti, konservator KKP Mino Raharjo.

Aksi tanggung jawab sosial lingkungan (CSR) oleh pihak swasta ini menjadi contoh praktik baik dalam mewujudkan pariwisata berkualitas di kawasan Pantai Selatan Yogyakarta.

Sebagai kelompok konservator, KKP Mino Raharjo memiliki peran sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem. Aktivitas yang dilakukan yaitu patroli penyisiran telur penyu, melakukan inkubasi telur, dan merawat tukik yang telah menetas. Aktivitas tersebut dilakukan untuk menjaga populasi penyu di Pantai Selatan. Selain itu, KKP Mino Raharjo juga menyediakan paket wisata melepas edukasi berupa kegiatan pelepasan tukik, yang memberikan pengalaman unik dan bermakna bagi wisatawan.

“Kami memastikan bahwa pariwisata harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, sehingga wisatawan yang datang ke Goa Cemara mempunyai pengalaman dan perenungan yang mendalam tentang kehidupan sesama yang harus terus dijaga,” tambah Fajar Subekti.

Film dokumenter yang diproduksi memuat cerita kehidupan para aktivis lingkungan, yang sebagian diantaranya merupakan mantan pemburu penyu. Aktivitas Fajar dan rekan-rekan KKP Mino Raharjo didokumentasikan untuk memvisualisasikan konservasi penyu di Pantai Selatan, sekaligus menyoroti berbagai dampak lingkungan yang berpotensi mengancam habitat penyu. Melalui film ini, publik diajak untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan dan melindungi praktik perburuan penyu.

Kegiatan konservasi penyu yang kemudian dikaitkan dengan wisata menjadi salah satu wujud pelaksanaan pariwisata berkualitas. Wisatawan bukan hanya mendapatkan pengalaman rekreatif, melainkan juga nilai edukatif yang meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.

“Yogyakarta ini dan Goa Cemara yang terkenal sebagai wisata mass tourism tentu harapannya dengan adanya konservasi tukik yang lebih profesional ini, wisatawan tidak hanya mandi air, bermain pasir, dan menikmati pantai saja, tetapi juga bisa mengedukasi diri dengan konservasi tukik dan bagaimana pelestarian alam untuk kelestarian penyu-penyu kita di masa depan” ujar GKR Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY.

Selain itu, pelepasan tukik dapat berdampak baik untuk mewujudkan keseimbangan ekosistem. Dengan demikian, cita-cita pariwisata naik kelas yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dapat terwujud sekaligus memberikan pengalaman wisata yang berkesan dan bertanggung jawab.

By Published On: Senin, 26 Januari 2026Views: 39

Share This Story, Choose Your Platform!