Yogyakarta, 20 Januari 2026 — Upacara adat Labuhan Merapi Tahun Dal 1959 Jawa/2026 digelar dengan khidmat pada Selasa (20/1). Prosesi sakral ini menjadi bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas, sekaligus wujud rasa syukur serta doa keselamatan bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Prosesi Labuhan Merapi diawali dari Kompleks Museum Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, menuju kawasan Srimanganti. Upacara ini merupakan laku budaya yang merekatkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi yang penting di era modern ini agar manusia tidak lupa dari mana dirinya berasal dan kewajibannya menjaga alam.

Rangkaian kegiatan adat telah dimulai sejak Sabtu malam (19/1) dengan pelaksanaan sugengan dan pagelaran wayang kulit di Kompleks Museum Petilasan Mbah Maridjan. Lakon Semar Bangun Desa yang dipentaskan menghadirkan suasana spiritual yang sarat nilai filosofis, mencerminkan kearifan budaya Jawa yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.

Ubarampe labuhan sebelumnya diserahkan oleh Utusan Keraton Yogyakarta kepada Bupati Sleman, Harda Kiswaya. Selanjutnya, ubarampe tersebut diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Surakso Hargo Asihono atau Mbah Asih. Bersama Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, para abdi dalem Hargo Merapi, serta masyarakat, ubarampe diarak dengan berjalan kaki menuju Srimanganti pada Selasa pagi sekitar pukul 06.15 WIB.

Setibanya di Sri Manganti Hargo Merapi, upacara dilanjutkan dengan prosesi ritual, doa bersama, serta pembagian nasi dan lauk pauk kepada masyarakat. Tradisi pembagian “berkat” ini tidak hanya dinikmati oleh warga lereng Gunung Merapi, tetapi juga oleh wisatawan yang turut menyaksikan jalannya Upacara Labuhan Merapi.

By Published On: Selasa, 20 Januari 2026Views: 429

Share This Story, Choose Your Platform!