Solo, BOB – Festival payung Indonesia (Fespin) 2022 resmi dibuka hari ini, Jumat (2/9/2022) di Pura Mangkunegaran, Provinsi Jawa Tengah. Festival bertajuk The Kingdom and Umbrella berlangsung selama tiga hari, 2 – 4 September 2022.

Fespin 2022 melibatkan puluhan grup seni dan komunitas kreatif dari berbagai daerah di Indonesia. Termasuk seniman dari Thailand, India, dan Spanyol. Fespin sendiri sudah masuk tahun ke-9, digelar secara konsisten sejak 2014 silam.

Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB), Agus Rochiyardi turut hadir dalam pembukaan acara yang dihadiri ribuan warga. Agus mengapresiasi festival yang berhasil masuk top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2022.

“Saya apresiasi festival payung yang disambut antusias warga Solo maupun luar kota. Diharapkan dapat mendongkrak perekonomian pasca pandemi Covid-19. Dan upaya menjadi wadah bagi seniman lokal kita,” ujarnya di sela-sela acara.

Agus berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses serta membangkitkan kembali motivasi dan optimisme para pelaku wisata dan ekonomi kreatif. Di sisi lain dapat membuka lapangan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memberdayakan para seniman.

Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kemenparekraf Kurleni Ukar juga berkesempatan hadir. Ia mengatakan pihaknya mendukung event berkualitas sebagai media promosi pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Sehingga mampu menjadi penggerak ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo mengatakan penyelenggaraan Festival Payung Indonesia 2022 menjadi bukti bahwa para seniman lokal memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

“Adanya kegiatan ini juga menjadi wujud peran Puro Mangkunegaran sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa untuk selalu menggali, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa Puro Mangkunegaran berkomitmen untuk hadir dan menjadi wadah dan tempat berkumpulnya para seniman. Selain itu juga sebagai pelestari kebudayaan. Ia berharap dengan adanya Festival Payung Indonesia 2022 ini para seniman dapat menunjukkan kemampuan dan karyanya.

“Serta para pengunjung dapat mengetahui mempelajari dan mengenali kembali budaya dan tradisi yang melekat pada masyarakat kita,” imbuhnya.

Filosofi payung dan relasi dengan kerajaan

Pada kesempatan yang sama, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo secara singkat menceritakan relasi payung dengan kerajaan Indonesia termasuk di Mangkunegaran.

Payung tidak hanya digunakan untuk melindungi diri dari terik matahari dan hujan tapi juga menjadi simbol pelindung dan pendamping manusia dari dia membuka mata yaitu sejak lahir dan saat menutup mata yaitu berpulang.

“Bayi lahir kita semua tahu ari-ari dikuburkan di tanah ataupun di labuh di air akan ada payung kecil yang ditancapkan untuk melindunginya. Demikian ketika dimakamkan, payung yang melindungi gundukan makamnya,” ujarnya.

Payung juga selalu mengiringi seorang Raja atau bangsawan ketika bepergian. Payung juga digunakan sebagai penanda seberapa tinggi jabatan seseorang dalam struktur pemerintahan di suatu kerajaan termasuk di Puro Mangkunegaran.

“Terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai warnanya, ukurannya dan penggunaannya juga. Ini membuktikan betapa dalamnya makna filosofis yang ada di dalam sebuah payung,” ujarnya.

Ayo, Berwisata #DiIndonesiaAja

Selama berbulan-bulan berada di rumah, Sobat Pesona tentu sudah rindu traveling, bukan? Nah, bagi Sobat Pesona yang hendak merencanakan liburan setelah pandemi, tak usah jauh-jauh ke luar negeri untuk merasakan pengalaman berwisata yang menyenangkan. Sebab, berwisata #DiIndonesiaAja juga bisa memberikan pengalaman liburan yang tak kalah mengesankannya dengan berwisata ke luar negeri, lho!

Leave A Comment