DOWNLOAD E-KATALOG JAWIMAJINASI

Berabad-abad lampau, sekitar abad VIII-IX (740 – 840 Masehi), sebuah bangunan megah didirikan di tengah Pulau Jawa. Bhumi Sambhara Budhara, konon begitulah masyarakat pada masa itu menyebut bangunan suci yang kini dikenal dengan nama Candi Borobudur tersebut. Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, ini merupakan mandala dalam kosmologi Buddha. Bangunan itu pula menjadi pusat aktivitas keagamaan bagi penganut Buddha pada masa itu hingga ditinggalkan masyarakat pendukungnya pada sekitar abad X, yang diduga akibat terjadi bencana alam dan perpindahan pusat Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Tak jauh dari Borobudur, sekitar 50 kilometer ke arah tenggara, berdiri kompleks percandian yang tak kalah megah dan indah, yaitu Candi Prambanan (abad IX). Candi yang diperkirakan didirikan sezaman atau sedikit lebih muda daripada Candi Borobudur ini terletak di wilayah Sleman, Yogyakarta. Sejumlah peneliti mengaitkan Candi Prambanan sebagai Siwagrha (Rumah Siwa) sebagaimana tercantum dalam Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 778 Çaka atau 856 Masehi. Arsitektur Candi Prambanan merupakan simbolisasi alam semesta dalam kosmologi Hindu. Pada masanya, candi ini merupakan pusat aktivitas keagamaan bagi penganut Hindu. Sama halnya dengan Borobudur, Candi Prambanan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya pada sekitar abad X.

Candi Borobudur dan Candi Prambanan berdiri dan menjadi pusat aktivitas keagamaan dalam kurun waktu satu masa. Keduanya adalah dua monumen megah dan indah yang sarat akan ajaran budi pekerti nan luhur. Keduanya menjadi simbol kehidupan kerukunan antaragama pada masa itu. Melalui kedua bangunan itu, imajinasi tentang kehidupan masyarakat Jawa yang harmonis, guyub, kreatif, ulet, dan selaras dengan alam terejawantahkan menjadi satu kesatuan yang menempa serta membentuk spirit orang Jawa.

Pulau Jawa terkenal dengan masyarakatnya yang kuat dalam menjunjung serta melestarikan tradisi dan ajaran leluhur. Hampir setiap aktivitas kehidupan mereka berawal dari akar tradisi dan ajaran adiluhung yang diwariskan secara turun-temurun. Baik dalam kehidupan spiritual maupun jasmaniah. Mulai dari keagamaan, mengolah dan memanfaatkan alam, berinteraksi sosial antar manusia, menata papan-sandang-pangan, berkesenian, sampai dengan menjalani kelahiran hingga kematian, semuanya sarat akan nilai-nilai tradisi. Inilah jiwa jawa. Inilah budaya masyarakat Jawa Dwipa.

Penggambaran mengenai orang Jawa sangat menarik untuk digali dan dipelajari tak lekang oleh waktu. Bahkan hampir dua milenium kemudian setelah Borobudur dan Prambanan ditinggalkan, imaji tentang kultur Jawa masih dapat tecermin melalui aktivitas keseharian masyarakat Jawa masa kini. Meski telah dihantam kemurkaan alam dan pagebluk, mereka selalu dapat menyintas dan bangkit kembali dari duka-nestapa. Bahkan pandemi COVID-19 yang membuat semua manusia di bumi ini shut down dan terpuruk dapat dijadikan momentum untuk bertafakur lalu bangkit kembali dengan lebih perkasa melalui curahan cipta, rasa, dan karsa.

Imajinasi masa lampau dalam imaji kini tentang masyarakat Jawa dalam berbagai konteksnya menjadi sebuah titik awal disusunnya sebuah kegiatan pameran foto dan peluncuran buku fotografi bertajuk JAWAMAJINASI yang digagas Badan Otorita Borobudur (BOB) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pameran dan buku fotografi JAWAMAJINASI menghadirkan 57 foto cerita karya 17 pewarta foto tentang beragam imaji masyarakat di Pulau Jawa, khususnya yang berada di wilayah satuan kerja Badan Otorita Borobudur, yaitu Destinasi Pariwisata Nasional (DPN)
Borobudur-Yogyakarta dan sekitarnya, DPN Solo-Sangiran dan sekitarnya, serta DPN Semarang-Karimunjawa dan sekitarnya. Secara umum, Jawamajinasi bercerita tentang destinasi wisata, lingkungan, budaya, serta sektor perekonomian baik yang berbasis tradisi hingga ekonomi kreatif dengan berbagai dinamikanya selepas pagebluk COVID-19.

Kegiatan yang akan diselenggarakan dan dibuka di Kota Lama Semarang tepat pada peringatan Hari Pariwisata Sedunia (World Tourism Day) 27 September 2022 dan digelar hingga 2 Oktober 2022 ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk pulih bersama dan bangkit dengan perkasa sebagaimana tema Presidensi G20 (Recover Together, Recover Stronger) bagi sektor pariwisata Indonesia. Di samping itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi medium untuk memperluas wawasan pariwisata bagi khalayak luas melalui Proyek Konten Fotografi Destinasi Wisata yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta.

Imajinasi menciptakan imaji. Bukan sekedar ilusi maupun fantasi. Jawamajinasi adalah kumpulan imaji fotografi tentang situasi dan kondisi terkini adaptasi dan kultur tradisi semesta Jawa nan lestari.

Ismar Patrizki
Kurator JAWAMAJINASI

Opening

Coaching Clinic

TERM OF REFERENCE (TOR) COACHNG CLINIC “JAWIMAJINASI”

Oudetrap Semarang, 28-29 September 2022

Era Digital di Indonesia merupakan sebuah hal yang sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, Era digital sendiri merupakan era dimana teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang salah satunya adalah penggunaan media sosial sebagai media promosi. Saat ini media sosial semakin luas digunakan sebagai saluran promosi pariwisata. Media sosial secara sederhana diartikan sebagai salah satu platform media online untuk mendukung komunikasi secara interaktif. Kunci media sosial adalah pada peluang setiap penggunanya menciptakan konten dan membagikan konten tersebut secara bebas menggunakan salah satu platform diantaranya instagram, twitter, facebook, youtube, tiktok, dan lain-lain atau disebut user generated content. Pesatnya penggunaan media sosial menjadikan platform media online tersebut semakin diperhitungkan dalam menyebarluaskan konten promosi berbagai hal termasuk program wisata maupun destinasi wisata. Penyebarluasan informasi dan promosi pariwisata menggunakan media sosial dapat dilakukan oleh siapapun termasuk masyarakat di lokasi obyek wisata itu sendiri.

Media sosial memberikan pengaruh yang besar dalam mempromosikan pariwisata yang ada dengan menyajikan fitur-fitur yang mendukung promosi wisata itu sendiri. Sesuai dengan penyifatan dasarnya, media sosial memungkinkan orang-orang atau masyarakat untuk berimajinasi dan menyebarkan konten sendiri, sehingga orang-orang tersebut dapat menjadi produser atau pembuat konten di berbagai platform media sosial. Akan tetapi, agar dapat menjaga keefektifan dan kualitas konten untuk mempromosikan kepariwisataan tertentu diperlukan pembekalan mengenai strategi pengguna dan mempersiapkan konten yang berkualitas sesuai panduan etika media sosial bagi stakeholder kepariwisataan.

Penggunaan media sosial pada destinasi wisata akan sangat membantu dalam promosi mengingat perilaku masyarakat yang akan melihat media sosial destinasi wisata yang akan dituju sebagai sumber informasi sebelum berkunjung. Banyak destinasi wisata yang mulai aktif dalam media sosial termasuk badan-badan pemerintahan yang juga memiliki media sosial termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Otorita Borobudur. Hal ini memberikan momentum untuk lebih menjangkau wisatawan yang ada di Indonesia dengan memanfaatkan kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial.

Berbicara tentang media sosial, maka peran para pegiat media sosial dinilai mempunyai kekuatan yang besar mengingat peran mereka sebagai tokoh yang pengaruh untuk para pengguna media sosial yang dapat menggerakkan banyak orang untuk melakukan sesuatu seperti contohnya promosi. Banyak stakeholder pariwisata dan para penggelar kegiatan (Event) yang bekerja sama dengan pegiat media sosial sebagai partner promosi sehingga destinasi wisata maupun acara yang akan diselenggarakan dapat memiliki sebaran informasi yang luas yang akan membuat tingkat kunjungan akan meningkat. Para pegiat media sosial ini dapat berperan aktif dalam sebuah promosi mengingat pengaruh nya yang besar dalam menyampaikan informasi dengan jangkauan yang luas dan cepat serta dinilai efektif dalam melakukan promosi.

Berdasarkan hal tersebut diatas, Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) ingin melakukan pendukungan kepada para pegiat media sosial khususnya di Kota Semarang agar kedepannya mereka dapat lebih meningkatkan kemampuan (Skill) mereka dalam promosi melalui konten media sosial yang berkualitas.

Pendukungan Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) kepada para pegiat media sosial salah satunya adalah melalui kegiatan Coaching Clinic Pegiat Media Sosial di Kota Semarang. Coaching Clinic Pegiat Media Sosial di Kota Semarang merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Otorita Borobudur, yang bertujuan untuk meningkankan kemampuan (Skill) para pegiat media sosial khususnya di Kota Semarang sehingga nantinya para pegiat media sosial ini dapat lebih berkembang. Selain itu, Badan Pelaksana Otorita Borobudur ingin melakukan kolaborasi bersama para pegiat media sosial di Kota Semarang agar bersama-sama meningkatkan sinergi dari Badan Pelaksana Otorita Borobudur dengan salah satu kawasan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang termasuk ke dalam kawasan koordinatif BPOB yang diantaranya adalah DPN Semarang – Karimun Jawa dan sekitarnya, DPN Solo – Sangiran dan sekitarnya, DPN Borobudur – Yogyakarta dan sekitarnya sehingga dapat terjalin dengan baik satu sama lain.

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pelatihan (Coaching Clinic) kepada para pegiat media sosial di Kota Semarang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para pegiat media sosial sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam promosi melalui konten media sosial serta untuk berkolaborasi membangun sinergi dengan dari BPOB bersama dengan para pegiat media sosial di salah satu kawasan koordinatif, DPN Solo – Karimun Jawa.

Melalui tema besar “Bersukaria dan Hunting Pasar dalam Merekam Kota”, akan mengkombinasikan antara kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya, yakni coaching clinic dengan praktek langsung di lapangan. Secara organik dengan banyaknya peserta dengan latar belakang sebagai pegiat social media yang terlibat dalam kegiatan ini dan dari bermacam latar belakang yang berbeda, diharapkan akan banyak sekali karya-karya promosi menarik yang dihasilkan dan menjadi sebuah daya ungkit bagi kunjungan wisata – utamanya ke bermacam tujuan wisata di kawasan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) dibawah Badan Otorita Borobudur (BOB) yang selama dua hari nanti pada 28-29 September 2022, akan terus diupayakan untuk diperkenalkan secara mendalam kepada para peserta.

Profil Narasumber Bagoes Kresnawan Klik disini

Profil Narasumber Muhammad Yogi Fajri Klik disini

Pendaftaran Coaching Clinic :

Registrasi

Performing Arts

Gambang Semarang

Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari warga masyarakat Semarang dan peranakan Tionghoa. Kesenian tradisional Gambang Semarang terbentuk dari gabungan antara seni musik, vokal, tari, dan lawak. Jika dilihat dari asal-usulnya, kesenian ini bukanlah asli dari penduduk Semarang, tetapi berasal dari Gambang Kromong Jakarta, yang merupakan perpaduan dari unsur kesenian Tionghoa dan Nusantara.

Dilansir dari akun IG@gambangsemarangartcomany, seni tari merupakan salah satu unsur dalam pertunjukan Gambang Semarang selain seni vokal, seni musik, dan seni lawak. Awal masa kemunculannya, tari pada pertunjukan gambang Semarang belum memiliki penataan gerak yang baku. Penataan tari salah satunya dilakukan pada tari Gambang Semarang dan Goyang Semarang dari segi bentuk, ragam gerak, rias, serta penataan busana oleh Ibu Dewi Indah dan tim berdasarkan riset yang dilakukan pada tahun 1998 hingga tahun 2000. Semua itu kemudian dikemas menjadi satu bentuk tatanan utuh tarian yang memiliki arti yang mendalam.

Jazz Ngisoringin

Komunitas musisi Semarang dari segala Genre, Status, dan level yang berkomunikasi dalam genre Jazz yang berdiri pada tanggal 13 Juli 2009. Dalam perjalannya selama ini, Komunitas Jazzngisoringin telah menyemarakkan Kota Semarang dengan berbagai macam kegiatannya seperti Jazz Ngisoringin Reguler Sesssion, Jazz in The Mall dan gelaran tahunnya yakni Loenpia Jazz

OK Sedulur Keroncong

Orkes Keroncong Sedulur Keroncong terbentuk pada 1 Maret 2020. Terbentuk atas inisiatif para seniman muda Kota Semarang yang ingin menyatukan tekad melestarikan Seni Musik Keroncong sebagai karya seni asli bangsa Indonesia.

Dengan dukungan para musisi senior seperti  Kecuk Sumarsono (ex TVRI) dan Siswanto, maka berdirilah OK Sedulur Keroncong. Selain tampil dalam formasi bezetting 7 lengkap, grup ini juga kerap  bermain minimalis tim. Grup ini juga didukung para penyanyi yang pernah malang melintang di kancah bintang radio dan televisi, serta panggung hiburan. Mereka antara lain Dedy, Malik, Yuni dan Lia.

Penampilan yang sudah dilibati ; Mengisi Siaran TVRI Jateng, Panggung Gran Maerakaca, Pentas Gebyar Keroncong, Pentas Reguler di panggung2 hiburan daerah (Surakarta, Magelang, Temanggung, Wonosobo dll). 

OK Sedulur Keroncong dikoordinir oleh WAWAN dan dibina oleh Chandra AN

Talkshow

TALKSHOW “JAWIMAJINASI”

“Imajinasi Bentang Alam dalam Catatan Pelawat Masa Lampau”

Oudetrap Semarang, 30 September 2022

Melawat adalah hal ikhwal yang dilakukan manusia sejak zaman purba untuk mempertahankan hidupnya. Selain itu, lawatan manusia juga punya sisi lain yakni perkembangan pengetahuan dan teknologi di belahan wilayah yang lain menjadi satu pengalaman tersendiri. Dalam sejarah peradaban Eropa dikenal enama-nama besar seperti Tom Pires, Magelhaens, Vasco de Gama, atau Amerigo Vespucci sebagai pelawat dunia. Dari sisi Tionghoa tentu kita juga mengenal I-Tsing, seorang penjelajah dan penerjemah yang handal mendokumentasikan nusantara pada masa-masa sebelum pelawat eropa menjelajahi nusantara.

Secara khusus di pulau Jawa kita bisa mengenali lawatan-lawatan masa lampau melalui prasasti, manuskrip, dan arsip. Berbasis prasasti Canggu/Trowulan I kita bisa menemukan setidaknya 33 desa penyebrangan di tepi Bengawan Solo dan 44 desa di tepi Sungai Brantas. Hal ini menjadi menarik untuk mengungkap tradisi lawatan maritim kita.

Beberapa manuskrip abad XV-XVI seperti Sureq I La Galigo, Bujangga Manik dan Negarakretagama/Desawarnana sudah memakai genre catatan perjalanan sejak abad ke-12. Secara khusus dalam kesusasteraan Sunda Kuno kisah Bujangga Manik dan pendakian Sri Ajnyana juga merekam kisah-kisah penjelajahan daerah-daerah di pulau Jawa. Kedua kisah tersebut bernafaskan perjalanan spiritual baik kunjungan ke tempat-tempat suci perjumpaan dengan orang-orang suci (Ajar, Wiku, Dibya) dan mengolah pengetahuan keagamaan. Sedangkan Negarakretagama mencatat perjalanan Hayam Wuruk dan Prapanca ke sebagian wilayah Majapahit di Jawa Timur. Genre ini kemudian terus berkembang ke dalam karya sastra sampai era modern.

Dalam perkembangan sastra Jawa baru pada abad XVII-XIX juga ditemukan beberapa naskah yang menggunakan genre tersebut seperti; Serat Jatiswara, Serat Centhini, Serat Lelampahanipun Raden Ngabèi Yasadipura, Serat Kuntharatama, Serat Cariyȏs Purwalelana, Serat Dhirilaksita, dan banyak catatan kunjungan raja-raja Mataram ke berbagai daerah kekuasaanya. Kemudian pada perkembangan karya sastra populer ditemukan banyak buku berjenis catatan perjalanan. Temanya beragam, dari penjelajahan alam, eksplorasi budaya, kunjungan ke tempat-tempat wisata, hingga perjalanan lintas negara. Dalam Serat Centhini misalnya, kita disuguhkan perjalanan Amongraga dan Cebolang mengelilingi hamper seluruh Jawa yang membentang dari gunung Karang di Banten hingga Banyuwangi.

Pola perjalanan dengan mengunjungi bentang alam seperti pedesaan, hutan, gunung, pantai, dan tempat-tempat bernilai penting ini menjadi sumber yang tak akan habis jika direvitalisasi menjadi satu narasi wisata minat khusus yakni perjalanan wisata berbasis catatan lawatan masa lampau. Salah satunya dapat diterapkan di kawasan Joglosemar yang mencakup objek warisan budaya dunia seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Penyusunan pola perjalanan wisata ke berbagai objek wisata bersejarah di kawasan Joglosemar, juga dapat dijadikan sebagai upaya memperkuat posisi objek wisata di mata dunia. Namun, kondisi di lapangan seringkali belum terlalu siap sehingga perlu dibuat pola perjalanan wisata dalam bentuk story telling sebagai panduan wisata. Pola perjalanan dan narasi yang kuat diperlukan agar wisatawan akan mendapatkan gambaran utuh bagaimana sejarah objek yang dituju. Pola perjalanan wisata itu dapat meliputi wilayah-wilayah yang dilalui, sehingga akan menggambarkan cerita yang terkait satu sama lain tentang bagaimana dulu perjalanan masa lampau telah dilakukan. Selain itu, diperlukan sebuah tema besar pola perjalanan wisata tersebut.

Pola perjalanan di masa lampau dan bagaimana kita memaknainya sebagai data dukung penyusunan pola perjalanan wisata di masa sekarang ini sangat menarik untuk dibedah dan dipelajari kembali. Dalam kegiatan “Jawimajinasi”, Badan Otorita Borobudur akan menyelenggarakan acara Talkshow yang bertajuk: “Imajinasi Bentang Alam dalam Catatan Pelawat Masa Lampau” pada tanggal 30 September 2022 yang bertempat di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang.

Profil Narasumber Alex Gunarto Klik disini

Profil Narasumber Sinta Pramucitra Klik disini

Profil Narasumber Rendra Agusta Klik disini

Profil Narasumber Tri Subekso Klik disini

Closing

Ayo, Berwisata #DiIndonesiaAja

Selama berbulan-bulan berada di rumah, Sobat Pesona tentu sudah rindu traveling, bukan? Nah, bagi Sobat Pesona yang hendak merencanakan liburan setelah pandemi, tak usah jauh-jauh ke luar negeri untuk merasakan pengalaman berwisata yang menyenangkan. Sebab, berwisata #DiIndonesiaAja juga bisa memberikan pengalaman liburan yang tak kalah mengesankannya dengan berwisata ke luar negeri, lho!

Leave A Comment